Pengalaman di China Modern: Membongkar Stereotip Film Kungfu dan Menyaksikan Kemajuan Luar Biasa
- Karef Hamit Training Center
- Dec 7, 2025
- 7 min read
Oleh George Saa
Jinzhou, 4 Desember 2025
Bagi banyak orang di Indonesia, termasuk saya sendiri, gambaran tentang China sering kali terbentuk dari layar lebar. Kita yang terbiasa menonton film kungfu klasik seperti karya Bruce Lee atau Jackie Chan pasti familiar dengan adegan-adegan ikonik: hutan bambu yang hijau lebat, pendekar-pendekar yang melompat terbang di antara pepohonan, atau pertarungan sengit di lereng gunung yang berkabut. Settingnya selalu menggambarkan China era dinasti kuno—perkampungan sederhana dengan rumah-rumah kayu, lembah-lembah misterius, dan istana-istana megah yang penuh intrik politik. Ini membuat saya, dan mungkin banyak orang lain, berpikir bahwa China masih seperti itu: negara yang terjebak dalam masa lalu, penuh mistis dan tradisi kuno, jauh dari kemajuan modern.
Namun, pengalaman saya selama dua minggu di Kota Jinzhou, Provinsi Liaoning di China bagian timur laut—yang berbatasan dengan Korea Utara di utara dan menghadap ke arah Korea Selatan di timur—serta dua hari di Beijing, ibu kota Republik Rakyat China, benar-benar membalikkan persepsi itu. China yang saya temui adalah negara yang sangat maju, modern, dan inovatif, jauh melampaui apa yang digambarkan dalam film-film itu. Kunjungan ke salah satu pabrik manufaktur di sana memberikan kesan mendalam, dan ada banyak pengamatan menarik yang ingin saya bagikan. Melalui tulisan ini, saya akan mengembangkan catatan pribadi saya menjadi artikel lengkap, mengeksplorasi aspek-aspek sejarah, ekonomi, teknologi, dan implikasi bagi kita di Indonesia, khususnya dari perspektif Papua.
Artikel ini akan membahas bagaimana China telah berevolusi dari kerajaan dinasti menjadi kekuatan global modern, dengan fokus pada kemajuan infrastruktur, teknologi, dan hubungan internasional. Saya akan mengintegrasikan pengalaman pribadi dengan fakta-fakta terkini hingga tahun 2025, berdasarkan pengamatan langsung dan penelusuran lebih lanjut. Mari kita mulai dengan memahami konteks umum China hari ini.
China Secara Umum: Dari Stereotip ke Realitas Modern
China sering digambarkan sebagai negara dengan sejarah panjang yang penuh perang dan dinasti, tapi realitasnya jauh lebih dinamis. Luas wilayah China mencapai sekitar 9,6 juta kilometer persegi, sedikit lebih besar dari Amerika Serikat yang 9,5 juta kilometer persegi. Ini membuat China menjadi negara terluas ketiga di dunia setelah Rusia dan Kanada. Dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa, China adalah rumah bagi beragam etnis, bahasa, dan budaya. Namun, yang paling mencolok adalah kemajuan pesatnya dalam beberapa dekade terakhir.
Dari segi tata kota, China telah membangun gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, sering kali melampaui kota-kota ikonik seperti New York atau London. Di Beijing, misalnya, saya melihat bagaimana CBD (Central Business District) dipenuhi dengan struktur futuristik seperti CCTV Headquarters yang berbentuk unik, atau Beijing Daxing International Airport yang merupakan salah satu bandara terbesar di dunia. Bandara ini, dibuka pada 2019, mampu menangani hingga 100 juta penumpang per tahun dan dirancang dengan teknologi ramah lingkungan. Di Jinzhou, meskipun bukan kota utama seperti Shanghai, saya terkesan dengan pelabuhan modernnya yang menjadi pusat logistik di Timur Laut China, menghubungkan dengan wilayah Bohai Sea.
Pengamatan saya di daerah pedesaan juga menarik. Di luar kota, lahan pertanian dibuka secara luas, dengan sistem irigasi canggih yang memanfaatkan teknologi drone untuk pemantauan tanaman. Di bukit-bukit sekitar Jinzhou, saya melihat instalasi pembangkit listrik tenaga surya (solar panels) yang membentang luas, serta turbin angin (wind turbines) yang berputar secara sinkron.
Menurut data terbaru pada 2025, China telah menjadi pemimpin global dalam energi terbarukan. Provinsi Liaoning sendiri memiliki peningkatan signifikan dalam pembangkit listrik bersih, dengan kontribusi besar dari nuklir, angin, dan surya. Secara nasional, China memiliki lebih dari 510 GW kapasitas surya dan angin yang sedang dibangun, bagian dari pipeline 1,3 TW untuk energi terbarukan. Ini bukan hanya untuk kebutuhan domestik, tapi juga mendukung ekspor teknologi hijau ke seluruh dunia.
Hal paling berkesan lainnya adalah interaksi dengan penduduk lokal. Bahasa Inggris jarang digunakan di sini, bahkan di kota besar seperti Beijing. Saya harus mengandalkan AI translator seperti aplikasi pada ponsel saya untuk berkomunikasi saat memesan makanan atau naik DiDi (layanan ride-hailing mirip Gojek). Anehnya, orang-orang China yang saya temui berbicara dengan saya seolah-olah saya memahami bahasa Mandarin. Mereka tidak ragu-ragu, dan ini mencerminkan budaya yang percaya diri serta kurangnya paparan dengan bahasa asing di luar kota-kota kosmopolitan. Pada 2025, teknologi AI seperti translator real-time telah menjadi solusi umum bagi wisatawan asing, mengurangi hambatan bahasa yang dulu menjadi masalah besar. Survei menunjukkan bahwa lebih dari 75% wisatawan asing di China menggunakan AI untuk komunikasi, dan ini semakin memudahkan integrasi global.
Pengalaman ini mendorong saya untuk mempelajari lebih dalam tentang peradaban China melalui YouTube dan sumber online. Ternyata, sejarah China memang kaya dengan dinasti yang berganti-ganti melalui peperangan antar suku dan klan. Dari Dinasti Qin (221-206 SM) yang menyatukan China untuk pertama kali, hingga Dinasti Han (206 SM-220 M) yang membuka Jalur Sutra, imperium China pernah meluas hingga ke Timur Tengah. Jalur Sutra, jaringan perdagangan kuno yang menghubungkan China dengan Eropa melalui Asia Tengah, tidak hanya membawa sutra tapi juga ide, budaya, dan teknologi. Pada masa Dinasti Tang (618-907 M), Jalur Sutra mencapai puncaknya, mempengaruhi gastronomi China dengan impor bahan seperti wortel dan walnut dari nomaden Eurasia.
Hingga 2025, semangat ekspansi itu terus hidup melalui inisiatif modern seperti Belt and Road Initiative (BRI). Diluncurkan pada 2013, BRI telah menginvestasikan miliaran dolar untuk infrastruktur di lebih dari 150 negara, termasuk jalur perdagangan yang mirip Jalur Sutra kuno. Pada paruh pertama 2025, BRI mencatat rekor investasi USD 57,1 miliar dan kontrak konstruksi USD 66,2 miliar, dengan fokus pada Kazakhstan dan wilayah lain. Ini menunjukkan bagaimana China terus mendorong konektivitas global melalui investasi massif.
Perjalanan ke Jinzhou: Kota Pelabuhan Modern di Liaoning
Jinzhou, kota prefektur di Provinsi Liaoning, menjadi titik utama perjalanan saya. Dengan sejarah lebih dari 2.200 tahun sejak Dinasti Liao, Jinzhou kini adalah pusat kota regional di Liaoning barat dan hub logistik penting di Timur Laut China. Populasi kota ini mencapai 2,7 juta jiwa pada sensus 2020, dengan area metropolitan yang mencakup 1,5 juta penduduk. Berbatasan dengan Laut Bohai, Jinzhou adalah pelabuhan penting yang menghubungkan China Utara dengan Asia Timur.
Saat tiba di Jinzhou, saya langsung terkesan dengan infrastrukturnya. Bandara Jinzhou Jinzhouwan Airport melayani penerbangan domestik dan internasional, meskipun tidak sebesar Beijing. Kota ini memiliki campuran antara warisan budaya dan industri modern. Saya mengunjungi Jinzhou Museum, yang menyimpan artefak dari era kuno, tapi di sisi lain, kawasan industri penuh dengan pabrik petrokimia, mesin berat, dan tekstil. Jinzhou dikenal sebagai satelit dari Dalian, kota pelabuhan terdekat, dengan pabrik kertas besar dan pabrik mesin yang mendukung ekspor global.
Selama dua minggu di sana, saya berkesempatan mengunjungi salah satu pabrik manufaktur. Pabrik ini memproduksi komponen elektronik untuk perangkat pintar, bagian dari inisiatif "Made in China 2025". Diluncurkan pada 2015, program ini bertujuan membuat China dominan di manufaktur high-tech, dengan target konten domestik 70% pada 2025 untuk bahan inti. Di pabrik tersebut, saya melihat lini produksi otomatis dengan robot yang bekerja 24/7, didukung AI untuk pengendalian kualitas. Pekerja menggunakan perangkat wearable untuk memantau efisiensi, dan sistem energi surya di atap pabrik menyediakan listrik hijau. Ini mencerminkan bagaimana China telah merevolusi manufaktur global, menguasai lebih dari 75% produksi baterai lithium-ion dunia pada 2025.
Pengamatan di sekitar Jinzhou juga menyoroti komitmen terhadap lingkungan. Di daerah pedesaan, lahan pertanian luas dikelola dengan teknologi presisi, seperti sensor IoT untuk irigasi. Di bukit-bukit, wind farms seperti Liaoning Changtu Quantou Shihu Wind Farm (49,3 MW) dan solar complexes berkontribusi pada transisi energi. Liaoning telah meningkatkan pangsa energi bersih hingga 22 poin persentase pada 2025, dengan angin dan surya sebagai pendorong utama. Ini bukan hanya untuk domestik; China mengekspor teknologi ini ke negara-negara berkembang.
Interaksi sosial di Jinzhou juga unik. Saya mencoba makanan lokal seperti seafood segar dari Laut Bohai, tapi harus menggunakan AI translator untuk memesan. Sopir DiDi sering berbicara panjang lebar tentang cuaca atau lalu lintas, seolah saya paham. Ini menunjukkan budaya yang ramah tapi kurang adaptif terhadap bahasa asing, mungkin karena 95% populasi berbahasa Mandarin sebagai bahasa utama.
Singgah di Beijing: Ibu Kota yang Futuristik
Setelah Jinzhou, saya menghabiskan dua hari di Beijing. Sebagai ibu kota, Beijing adalah simbol kemajuan China. Dengan populasi 21 juta, kota ini memiliki sistem transportasi mutakhir: kereta maglev yang mencapai kecepatan 600 km/jam, dan subway dengan AI untuk manajemen lalu lintas. Saya mengunjungi Forbidden City untuk menyentuh sejarah dinasti, tapi di sekitarnya, gedung-gedung seperti China World Trade Center menjulang setinggi 330 meter.
Beijing juga pusat inovasi teknologi. Pada 2025, China memimpin di AI dan quantum computing, dengan perusahaan seperti Huawei dan Tencent yang mengintegrasikan AI ke kehidupan sehari-hari. Saya melihat bagaimana kota ini menggunakan smart city tech untuk mengelola polusi, dengan sensor yang memantau kualitas udara real-time.
Sejarah China: Dari Dinasti ke Hegemoni Global
Untuk memahami China modern, kita harus melihat ke belakang. Sejarah China dimulai dari Dinasti Xia (sekitar 2070 SM), tapi unifikasi pertama oleh Qin Shi Huang pada 221 SM. Dinasti Han membuka Jalur Sutra, menghubungkan China dengan Roma melalui Asia Tengah. Ini membawa pertukaran budaya: sutra ke Barat, kuda dan anggur ke Timur.
Dinasti Tang dan Song (960-1279 M) membawa kemakmuran, dengan penemuan seperti bubuk mesiu dan kompas. Mongol di bawah Kublai Khan (Dinasti Yuan) memperluas imperium hingga Timur Tengah. Dinasti Ming (1368-1644) membangun Tembok Besar, sementara Qing (1644-1912) adalah yang terakhir sebelum republik.
Pengaruh ini berlanjut ke modern. Jalur Sutra memengaruhi perdagangan global, dan kini BRI merevitalisasinya. Pada 2025, BRI telah merestrukturisasi rantai nilai global, dengan investasi di infrastruktur seperti pelabuhan dan kereta di Afrika dan Asia.
Implikasi untuk Indonesia dan Papua: Mitra Strategis
Dari pengalaman ini, saya menyimpulkan bahwa kita di Indonesia, khususnya Papua, harus melihat China sebagai mitra utama. Hubungan perdagangan Indonesia-China mencapai USD 72,8 miliar pada 2020, dengan defisit bagi Indonesia. Tapi potensinya besar: China berinvestasi di nikel Indonesia, dengan transfer teknologi yang membantu industri lokal.
Bagi Papua, yang kaya sumber daya alam, kerjasama dengan China bisa melalui BRI untuk infrastruktur. Papua bisa belajar dari model energi terbarukan Liaoning, menerapkan solar dan wind untuk listrik pedesaan. Transfer teknologi di AI dan manufaktur bisa menciptakan lapangan kerja.
Pada 2025, Indonesia mendorong integrasi geoeonomi dengan tetangga seperti Papua New Guinea, tapi China bisa menjadi jembatan. Dengan BRI, kita bisa meningkatkan konektivitas, memastikan teknologi transfer menjadi bagian integral.
Kesimpulannya, China bukan lagi negara film kungfu; ia adalah pemimpin global. Mari kita manfaatkan ini untuk kemajuan bersama.





Comments